Selasa, 18 Oktober 2011

Ketetapan Allah Bukanlah Takdir



Beberapa orang mengatakan bahwa skenario kejadian di hari berbangkitpun sudah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka mengusung potongan ayat, "kitabillah ile yaumil ba'tsi (=ketetapan Allah sampai hari berbangkit)" Jadi manusia tinggal menjalani skenario tersebut lengkap dengan castingnya. siapa yang jadi ahli surga, siapa yang ahli neraka juga sudah dijatah masing masing karena sudah selesai dituliskan. Benarkah demikian? SALAH, karena ternyata dalam ayat ini Ketetapan Allah Bukanlah Takdir. Berikut penjelasannya

Potongan ayat yang mereka ajukan adalah bagian dari ayat 56 Surat ar Ruum sebagai berikut:

 Artinya: Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya). (Ruum 56)

Sebagaimana dalam posting sebelumnya (surat an Nisa 24), dalam ayat ini ketetapan Allah juga berpadanan dengan ‘kitabi Allah’ Pemaknaan frasa nya juga mengarah pada ‘sesuatu yang telah dituliskan sebagai sebuah ketetapan” Bedanya adalah mengenai topik yang dituliskan. Kalau dalam Surat an Nisa 24 yang dituliskan sebagai ketetapan adalah aturan pernikahan, kalau dalam surat Ar Ruum 56 ini yang dituliskan oleh Allah sebagai ketetapan adalah tahapan yang dilalui manusia dari alam dunia menuju alam akhirat.


Kesalahan Penafsiran

Kesalahan pemahaman juga terjadi atas ayat ini mengenai frasa ’kitabi Allah ila yaumil ba’ts (ketetapan Allah hingga hari berbangkit)’
Beberapa orang mengatakan frasa tersebut menerangkan bahwa kejadian pada hari berbangkit telah selesai dituliskan. Lebih jauh lagi mereka menafsirkan bahwa si fulan di hari berbangkit itu akan bangkit sebagai ahli neraka atau surga pun semuanya sudah dituliskan.

Penafsiran ini mengada ada. Sekali lagi kita teliti bahwa tidak satupun kata yang mengarah pada penetapan nasib seseorang. Yang sudah ditetapkan adalah tahapan atau prosesnya. Kalau dalam bahasa komputer sudah ada flow chart nya.

ketetapan itu sbb:
Setelah mati semua orang akan menjalani masa menunggu di dalam kubur hingga datangnya hari berbangkit.

Beberapa penterjemah menyarankan untuk membalik urutan frasa dalam ayat tersebut agar lebih mudah dicerna dengan rasa bahasa yang sesuai dengan bahasa indonesia, sebagai berikut:
Kalimat asli sesuai teks Qurannya “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit”

Frasa yang dicetak tebal dipindahkan ke paling belakang menjadi:
Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) sampai hari berbangkit; menurut ketetapan Allah

Dengan susunan frasa seperti itu lebih terlihat bahwa yang sampai hari berbangkit bukan masalah ketetapannya. Yang sampai hari berbangkit itu adalah lamanya menunggu di dalam kubur.

Jadi sekali lagi yang dimaksud “kitabi Allah (=ketetapan Allah)” dalam ayat 56 surat Ar Ruum ini adalah :

ketetapan atau ketentuan bahwa setiap orang yang mati pasti melalui fase menunggu (di alam kubur) sampai hari dibangkitkannya semua manusia.

demikian penjelasan ini. ayat ayat lain yang mencantumkan kata kitaba, kitabi, atau kitaban yang memiliki arti ketetapan dibahas dalam artikel berikutnya

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 14 Agustus 2011

Menyemai Gotong Royong


Tulisan ini berangkat dari kegundahan terhadap fenomena berbangsa-bernegara yang kian tercabik dan terberai. Disintegrasi menjadi penyakit laten yang belum terjawab, namun sudah menganga mengancam tali persatuan. Merebaknya saling curiga, membudayanya saling hujat, nihilnya saling percaya, dan ragam pemandangan lainnya yang tak sedap, kian menggumpalkan kelusuhan berindonesia kita.  
Sejak Indonesia berdiri, komitmen persatuan menjadi pengikat yang meleburkan segala ego personal dan kelompok menjadi ego Indonesia Raya. Sebuah ikrar yang lazim terjadi di setiap negara dan bangsa manapun, karena hanya tekad persatuan itulah sebuah negara berdiri tegak dan dapat mengelola dirinya dengan baik. Tanpa persatuan, tidak ada lagi rumusan negara dapat bertahan lama. Uni Soviet sebagai negara adidaya pun, runtuh tak berdaya akibat leburnya persatuan menjadi fanatisme etnik. Jika disintegrasi terjadi, berarti jurang kehancuran negara sedang menanti. 
Menelisik kondisi bangsa kini, sepantasnya kita cemas. Nilai-nilai yang semestinya menjadi pijakan dalam berbangsa kian luntur, sementara arus tantangan begitu kuat menerjang di segala aspek budaya, politik, dan ekonomi. Globalisasi yang tidak terelakkan misalnya, telah banyak menghentak struktur nilai konvesional masyarakat kita hingga ruang terkecil dan remeh-temeh. Akhirnya, kelemahan daya imunitas bangsa akan rentan menghadirkan sebuah bangsa yang ringkih dan lemah.
Menurut saya, jika kenyataan tersebut tidak diantisipasi dini dan abai direspons, sungguh akan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan negara Indonesia ke depan. Pernyataan ini tidaklah hiperbolik, apalagi bombastis, karena persoalannya begitu dekat dan lekat dengan kehidupan sehari-hari kita dalam berbangsa seperti kemiskinan menganga, mulai bergeliatnya etnosentris, hingga kumandang merdeka dari rengkuhan Indonesia.

Gotong Royong
Untuk melerai segala potensi yang merontokkan sendi berbangsa, kita harus kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa kita. Gotong-royong adalah salah satu nilai luhur utama bangsa yang seharusnya dijadikan ruh dalam segala aspek bertindak, namun ter(di)lupakan. Karena nilai gotong-royong bukan sekedar seremonial yang hanya terjebak pada praktik-praktik slogan tanpa ruh. Tapi, harus dijalarkan agar menjadi landasan pijak dan tindak dalam membangun bangsa yang lebih baik.
Ir. Soekarno menegaskan semangat gotong royong lebih dinamis dari nilai kekeluargaan dan menjadi intisari Pancasila. Para founding fathers melatakkannya sebagai prinsip nilai bangsa yang tidak lagi bisa ditawar. Tetapi, hati ini terasa miris ketika nilai gotong-royong yang merupakan ejawantah Pancasila dan selalu didengungkan, namun senyap menjadi pajangan di dinding yang tidak lagi bergelora dalam tindakan berbangsa.
Bangsa kita telah mencapai banyak pembaruan dan perubahan. Keterbukaan politik dilakukan, restrukturasi ekonomi diupayakan, reformasi terus digelorakan. Tetapi sayang, semangatnya masih jauh dari muara prinsip gotong-royong. Keterbukaan politik justru disadap oleh hasrat an sich ingin berkuasa, perbaikan ekonomi dipoles untuk mengeruk kekayaan demi diri sendiri, dan gelora reformasi dijadikan ajang kontestasi saling menjatuhkan.
Lambannya pembenahan bangsa sejak reformasi bergulir, akibat tumpulnya ketajaman dalam menjadikan gotong-royong sebagai pijakan pembaruan. Kebebasan dan keterbukaan politik bergerak secara liar tanpa mengindahkan sendi-sendi solidaritas kolektif sebagai bangsa. Jalan perubahan kita telah melenceng dari semangat gotong-royong. Jika kondisi ini terus terbiarkan, bangsa kita tidak semata akan mengalami turbulensi, tapi menjadi lubang yang mematikkan bagi keutuhan negara-bangsa (nation-state) Indonesia.

Melebur Ego
Gotong royong mengandaikan leburnya benteng ego personal ke dalam ego kolektif untuk saling menopang demi kemajuan bangsa. Membangun gotong royong berarti sama-sama saling menopang dan bahu-membahu untuk mewujudkan kebaikan bagi negara dan bangsa, bukan sebaliknya. Namun, ketika keadilan harus ditegakkan, rasa kekeluargaan dan gotong-royong bukan berarti harus ditutupi atas nilai kebersamaannya.
Ketercabikan persatuan di tengah masyarakat akibat ego yang demikian menyeruak harus dihentikan dengan menyemai kembali semangat gotong-royong. Seruan untuk merekatkan lagi rasa persaudaraan dan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang besar oleh para pemimpin serta tokoh masyarakat sangat diperlukan. Seruan gotong-royong yang digemakan terus menerus, dapat membangun suasana baru dalam bathin kebangsaan kita.
Tetapi yang jauh lebih penting, seruan itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Seorang guru menghadirkan spirit gotong-royongnya dalam semangat bersama untuk mendidik anak bangsa. Seorang pegawai menampakkanya dengan semangat produktivitas pengabdian kepada negara. Seorang pemimpin dan tokoh masyarakat menunjukkannya dengan saling membahu untuk memberikan yang terbaik buat rakyat yang dipimpinnya.
Oleh karena itu sudah saatnya kita menyemai kembali gotong-royong untuk menjawab ancaman yang dapat meruntuhkan keutuhan persatuan bangsa Indonesia. Sebagai anak bangsa, kita memiliki tanggung-jawab besar mempertahankan dan menguatkan pondasi kebangsaan yang sudah dibangun para pahlawan dan founding fathers dengan keringat dan darah. Hanya itu yang bisa kita persembahkan untuk kejayaan Indonesia. ***

[+/-] Selengkapnya...

BEDA ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG


Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.
Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.
Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 09 Agustus 2011

Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat







Love is a give (Cinta adalah berkah)...
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)...
Cinta Allah yang membuat bumi ada...
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar...
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman...
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana...
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima...

Mirip seperti itulah hakikat menjadi da'i...
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah...
Dia selalu memberi utk Islam,tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja dakwahnya...
Itulah ikhlash...
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah...
Siap mengeluarkan uang utk dakwah...
Siap mengeluarkan tenaga utk dakwah...

Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis dakwah adalah seperti saudara...
Cukup sampai disana...
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)...
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya...

Jika Allah telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo...?
Masih panjang langkah dakwah kita...
Masih begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah...
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh...
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita...
Jangan sampai dakwah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti
hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)...

Dakwah adalah sesuatu yang suci...
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)...
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya...
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab...

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa
yang zholim (HR Bukhori Muslim)...

Bukan ingin ketenaran...
Dia berdakwah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya...

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,

Utk ikhwan...
Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti...
Utk Akhwat...
Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang
ada di syurga...

Kebenaran hakiki hanya milik Allah...
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan...

[+/-] Selengkapnya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri Populer

Pengikut